Film Baru Suzy, Adu Akting dengan Lee Jin Wook di Seven O’Clock

Suzy

Bae Suzy kembali ke layar lebar lewat film romantis terbaru berjudul Seven O’Clock Breakfast Club for the Brokenhearted. Film yang mempertemukannya dengan Lee Jin Wook itu dijadwalkan tayang di bioskop Korea Selatan pada Desember 2026 dan membawa kisah tentang dua orang yang sama-sama belum benar-benar selesai dengan masa lalu.

kittoidn – Penggemar Bae Suzy akhirnya mendapat kabar baru soal proyek layar lebar sang aktris. Film terbarunya, Seven O’Clock Breakfast Club for the Brokenhearted, dipastikan akan dirilis secara komersial di bioskop Korea Selatan pada Desember 2026. Kabar tersebut diumumkan distributor BY4M Studio pada 8 September 2026.

Film ini mempertemukan Suzy dengan Lee Jin Wook dalam sebuah romance drama yang fokus pada patah hati, perpisahan, dan usaha untuk benar-benar move on. Suzy berperan sebagai Sa-gang, seorang pramugari yang telah putus dengan kekasihnya tetapi secara emosional belum benar-benar mengakhiri hubungan tersebut. Meanwhile, Lee Jin Wook memainkan Ji-hoon, seorang konsultan bisnis yang juga membawa luka dari hubungan masa lalunya.

Seven O’Clock Breakfast Club for the Brokenhearted menjadi salah satu film Korea yang paling menarik untuk ditunggu pada akhir 2026. BY4M Studio mengonfirmasi film tersebut akan masuk bioskop Korea Selatan pada Desember, meskipun tanggal spesifik penayangannya belum diumumkan. Jadi, untuk sekarang fans masih harus menunggu update berikutnya soal tanggal premiere secara exact.

Film ini sebenarnya bukan proyek yang completely baru diperkenalkan kepada publik. Seven O’Clock Breakfast Club for the Brokenhearted sudah diputar di Busan International Film Festival pada 2025 sebelum mendapatkan jadwal rilis komersial sekitar satu tahun kemudian. Film tersebut juga tercatat masuk Tribeca Festival 2026.

Situasi ini membuat perilisan Desember terasa seperti long-awaited moment bagi penggemar Suzy. Setelah sempat dipertontonkan di festival, film akhirnya akan tersedia untuk penonton bioskop secara lebih luas di Korea Selatan. Hype-nya juga meningkat setelah poster terbaru dirilis bersamaan dengan pengumuman jadwal tayang.

Suzy Jadi Pramugari Bernama Sa-gang

Dalam film ini, Bae Suzy memerankan karakter bernama Sa-gang yang bekerja sebagai pramugari. Sa-gang digambarkan sebagai perempuan yang baru mengalami perpisahan tetapi belum mampu benar-benar mengucapkan selamat tinggal kepada hubungan masa lalunya. Karakter ini kemudian bertemu Ji-hoon dalam sebuah acara sarapan khusus untuk orang-orang yang sedang patah hati.

Premis tersebut langsung memberi kesan bahwa film ini tidak hanya menjual chemistry romantis dua karakter utama. Ceritanya juga mencoba masuk ke fase awkward setelah sebuah hubungan berakhir, ketika secara formal semuanya sudah selesai tetapi emosinya belum benar-benar ikut selesai. That’s relatable banget buat siapa pun yang pernah bilang sudah move on padahal playlist masih isinya lagu galau.

Sa-gang sendiri menjadi karakter yang potentially memberikan ruang cukup luas bagi Suzy untuk menunjukkan sisi emosional. Ia bukan sekadar perempuan yang mencari cinta baru, tetapi seseorang yang terlebih dahulu harus memahami rasa kehilangan dan attachment terhadap masa lalu. Karena itu, film ini terasa lebih dekat ke romance healing dibanding rom-com ringan.

Lee Jin Wook tampil sebagai Ji-hoon, seorang konsultan bisnis yang juga hadir dalam pertemuan sarapan untuk orang-orang yang baru putus cinta. Di tempat itulah ia bertemu Sa-gang dan cerita keduanya mulai berkembang. Mereka kemudian terlibat dalam perjalanan yang berkaitan dengan sejumlah barang kenangan dari hubungan lama.

Menurut sinopsis resminya, Sa-gang dan Ji-hoon menemukan “breakup souvenirs” atau barang-barang kenangan perpisahan yang tertukar. Mereka lalu berusaha mencari pemilik sebenarnya dari barang tersebut. Dari situ, perjalanan mencari pemilik souvenir berubah menjadi perjalanan emosional untuk memahami rasa sakit mereka sendiri.

Konsep ini cukup interesting karena menggunakan objek sederhana sebagai trigger cerita. Barang dari mantan bisa terlihat trivial, tetapi dalam konteks hubungan justru sering menyimpan emotional baggage yang sangat besar. Film kemudian menjadikan benda-benda tersebut sebagai pintu untuk membahas apa artinya benar-benar mengakhiri sebuah hubungan.

Suzy dan Lee Jin Wook Reuni Setelah Tiga Tahun

Pertemuan Suzy dan Lee Jin Wook juga menarik karena keduanya sudah pernah berada dalam proyek yang sama sebelumnya. Wolipop menyebut film ini menjadi reuni keduanya setelah sekitar tiga tahun. Chemistry mereka therefore menjadi salah satu selling point yang cukup obvious menjelang perilisan.

Suzy dikenal punya image yang kuat dalam genre romance, sementara Lee Jin Wook cukup familiar dengan karakter yang lebih mature dan emotionally restrained. Kombinasi tersebut potentially menghasilkan dynamic yang berbeda dibanding pairing Suzy sebelumnya. Alih-alih cinta yang very youthful, film ini menawarkan relasi dua orang dewasa yang sudah membawa history masing-masing.

Reuni tersebut juga memberi keuntungan dari sisi audience familiarity. Fans yang sudah mengenal keduanya tidak perlu banyak introduction untuk tertarik melihat interaksi mereka. Tinggal bagaimana script dan directing mengubah chemistry itu menjadi hubungan yang believable di layar.

Suzy dan Lee Jin Wook bukan satu-satunya nama besar dalam film ini. Yoo Ji Tae dan Keum Sae Rok juga bergabung sebagai bagian dari jajaran pemeran utama. Kehadiran keduanya memperluas cerita karena masing-masing terhubung dengan masa lalu karakter Sa-gang dan Ji-hoon.

Yoo Ji Tae dilaporkan berperan sebagai mantan kekasih Sa-gang. Sementara Keum Sae Rok tampil sebagai karakter bernama Hyeon-jung yang berkaitan dengan masa lalu Ji-hoon. Kedua karakter ini potentially menjadi kunci untuk menjelaskan kenapa Sa-gang dan Ji-hoon sulit benar-benar move on.

Dengan struktur seperti ini, film tidak hanya bergantung pada pertemuan dua orang baru. Ceritanya justru memberi ruang cukup besar kepada hubungan lama yang masih meninggalkan bekas. That’s usually where the emotional mess begins.

Seven O’Clock Breakfast Club for the Brokenhearted diadaptasi dari novel berjudul sama karya penulis Korea Selatan Baek Young Ok. Novel tersebut pertama kali diterbitkan pada 2012 dan kemudian diadaptasi ke layar lebar lebih dari satu dekade setelah perilisannya.

Cerita dari novel tersebut berpusat pada orang-orang yang datang ke pertemuan sarapan setelah mengalami perpisahan. Ide dasarnya cukup simple tetapi punya ruang luas untuk mengeksplorasi kesepian, grief, nostalgia, dan acceptance. Adaptasi film kemudian memusatkan perhatian pada Sa-gang dan Ji-hoon sebagai dua karakter utama.

Kisah patah hati sebagai tema sebenarnya sangat familiar dalam film Korea. Namun, konsep breakfast club memberikan setting yang cukup fresh karena menghadirkan ruang khusus bagi orang-orang yang sedang mencoba menyelesaikan hubungan secara emosional. It’s giving group therapy, but cinematic.

Film ini disutradarai Im Sun-ae, filmmaker yang sebelumnya dikenal lewat An Old Lady pada 2020 dan Ms. Apocalypse pada 2024. Karya-karyanya dikenal cenderung memberi perhatian besar pada karakter dan perjalanan emosional mereka. Karena itu, pemilihan Im Sun-ae cukup sesuai dengan material cerita yang sangat character-driven.

Im Sun-ae juga membawa pendekatan yang berbeda dibanding sutradara romance mainstream. Film seperti Ms. Apocalypse menunjukkan ketertarikannya pada karakter dengan kehidupan yang complicated dan tidak selalu bergerak menuju solusi sederhana. Hal tersebut potentially membuat kisah Sa-gang dan Ji-hoon terasa lebih nuanced.

Durasi film tercatat sekitar 108 menit menurut informasi Studio Genie. Durasi tersebut cukup ideal untuk drama romantis yang ingin mengembangkan dua karakter utama tanpa terasa terlalu panjang. Dengan run time di bawah dua jam, pacing-nya potentially bisa tetap intimate dan focused.

Poster yang dirilis bersamaan dengan pengumuman jadwal tayang memberikan tone yang cukup jelas. Sa-gang dan Ji-hoon ditampilkan dengan ekspresi emosional yang menunjukkan keduanya masih membawa rasa sakit dari hubungan sebelumnya. Tagline poster juga mengarah pada keinginan untuk benar-benar menyelesaikan sesuatu yang sebenarnya sudah berakhir.

Visual tersebut membuat film terasa jauh dari romantic comedy penuh warna. Mood-nya lebih melancholic dan reflective, dengan fokus pada bagaimana seseorang memproses kehilangan. Vibes-nya bukan “ketemu orang baru lalu langsung jatuh cinta”, tetapi lebih ke “belajar menutup pintu lama sebelum membuka yang baru”.

Itu juga menjadi alasan film ini potentially menarik bagi penonton dewasa. Patah hati yang dibahas bukan sekadar drama sesaat, tetapi emotional residue yang bisa tetap tinggal setelah hubungan selesai. Film kemudian mencoba menjawab bagaimana seseorang akhirnya benar-benar mengucapkan goodbye.

Breakup Souvenir Jadi Elemen Penting Cerita

Salah satu elemen paling unik dari film ini adalah konsep breakup souvenir. Sa-gang dan Ji-hoon menemukan barang-barang kenangan perpisahan yang secara tidak sengaja tertukar dan kemudian berusaha mencari pemiliknya. Setiap barang tersebut menyimpan cerita dan rasa sakit yang berbeda.

Barang-barang tersebut secara simbolis mewakili hubungan yang sudah selesai tetapi masih meninggalkan sesuatu. Bisa berupa benda biasa yang secara objektif tidak valuable, tetapi emotionally susah dilepas karena berkaitan dengan seseorang. Konsep ini terasa very human dan gampang banget bikin penonton relate.

Perjalanan mencari pemilik barang kemudian menjadi metafora bagi perjalanan Sa-gang dan Ji-hoon menghadapi masa lalu mereka sendiri. Semakin mereka memahami cerita orang lain, semakin besar kemungkinan keduanya mulai memahami dirinya. Dari situ, romance baru potentially tumbuh secara natural.

Sebelum rilis komersial pada Desember, film ini sudah mendapat exposure melalui Busan International Film Festival 2025. Penayangan festival memberikan kesempatan awal bagi film untuk diperkenalkan kepada audiens dan industri sebelum masuk bioskop secara luas.

Selain BIFF, Studio Genie juga mencatat film ini menjadi bagian dari Tribeca Festival 2026. Kehadiran pada dua festival tersebut memberikan additional credibility sebelum perilisan komersialnya. Artinya, film Suzy ini tidak hanya diposisikan sebagai star vehicle tetapi juga dibawa ke ruang festival internasional.

Untuk fans Suzy, perjalanan festival tersebut membuat penantian terasa cukup panjang. Film sudah selesai dan sempat ditonton audience tertentu, tetapi publik luas Korea baru mendapat kesempatan pada Desember. Now the waiting game is almost over.

Bae Suzy memang sangat closely associated dengan genre romance. Dari drama hingga film, image-nya sebagai leading lady sudah terbentuk kuat lewat proyek yang menggabungkan cerita cinta dengan character growth. Seven O’Clock Breakfast Club for the Brokenhearted kembali membawa Suzy ke territory tersebut.

Namun, tone proyek ini terlihat lebih mature daripada beberapa karya romance terdahulunya. Sa-gang bukan karakter yang sedang mengalami first love, melainkan seseorang yang mencoba menerima akhir dari hubungan yang sudah meninggalkan bekas cukup dalam. That maturity memberi Suzy ruang untuk memainkan emosi yang lebih layered.

Bagi karier Suzy, film ini juga menjadi kesempatan memperkuat posisi di layar lebar. Ia selama beberapa tahun terakhir aktif bergerak antara serial streaming, televisi, musik, dan film. Kombinasi tersebut membuat Suzy tetap menjadi salah satu entertainer Korea dengan portfolio paling versatile.

Selain film ini, Suzy juga tengah memiliki proyek lain yang menarik perhatian. Wolipop melaporkan ia bersiap mempromosikan drama Disney+ Portraits of Delusion bersama Kim Seon Ho. Dengan demikian, periode akhir 2026 potentially menjadi waktu yang cukup busy untuk sang aktris.

Project overlap seperti ini cukup common bagi aktor Korea papan atas. Satu film bisa masuk masa promosi ketika drama lain berada dalam tahap launching atau produksi. Fans therefore kemungkinan akan melihat Suzy cukup sering muncul dalam berbagai aktivitas entertainment.

Di sisi lain, Lee Jin Wook juga tengah bersiap untuk proyek drama berikutnya. Ia dilaporkan akan memulai syuting Wed Thurs Fri bersama Shin Min Ah. Both leads basically masuk Desember dengan schedule yang pretty packed.

Tanggal Tayang Indonesia Belum Diumumkan

Sampai pengumuman terbaru 8 September 2026, jadwal yang confirmed baru menyebut perilisan bioskop Korea Selatan pada Desember. Belum ada informasi resmi mengenai kapan Seven O’Clock Breakfast Club for the Brokenhearted akan masuk bioskop Indonesia. Distributor internasional juga belum mengumumkan jadwal penayangan untuk pasar Indonesia dalam sumber yang tersedia.

Hal ini penting agar penggemar tidak menganggap film otomatis tayang serentak di Indonesia pada Desember. Banyak film Korea memang eventually masuk bioskop Indonesia, tetapi jadwalnya bisa berbeda atau bahkan dirilis melalui platform streaming. Jadi, fans Indonesia masih perlu menunggu announcement terpisah.

Kalau respons di Korea cukup kuat, peluang distribusi internasional potentially ikut membesar. Suzy dan Lee Jin Wook punya fanbase cukup besar di Asia, termasuk Indonesia. Commercially, film ini jelas memiliki selling point yang cukup strong untuk pasar regional.

Dari premis yang diumumkan, film ini terasa cocok untuk penonton yang menyukai romance dengan nuansa healing. Fokusnya bukan pada konflik melodramatis yang massive, tetapi pada dua orang yang mencoba memahami apa yang sebenarnya belum mereka selesaikan. Emotional intimacy kemungkinan menjadi main attraction.

Konsep pertemuan sarapan bagi orang patah hati juga membuat cerita punya setting yang cukup distinct. Bukan dating app, bukan kantor, dan bukan friends-to-lovers formula yang sangat familiar. Film memilih ruang yang literally dibentuk untuk orang-orang yang sedang patah hati.

That setup membuka banyak kemungkinan percakapan yang intimate. Sa-gang dan Ji-hoon tidak bertemu ketika keduanya berada di fase terbaik hidup, tetapi justru saat mereka sedang emotionally messy. Sometimes, that’s exactly where the best romance stories begin.

Film baru Bae Suzy, Seven O’Clock Breakfast Club for the Brokenhearted, dipastikan tayang di bioskop Korea Selatan pada Desember 2026. Suzy berperan sebagai Sa-gang, seorang pramugari yang belum sepenuhnya selesai dengan hubungan masa lalu, sementara Lee Jin Wook berperan sebagai konsultan bernama Ji-hoon. Keduanya bertemu dalam sebuah acara sarapan untuk orang-orang yang baru mengalami perpisahan.

Film tersebut diadaptasi dari novel Baek Young Ok yang terbit pada 2012 dan disutradarai Im Sun-ae. Yoo Ji Tae serta Keum Sae Rok turut bergabung dalam jajaran pemain, sedangkan filmnya sudah lebih dulu tampil di Busan International Film Festival 2025 dan Tribeca Festival 2026.

Tanggal pasti penayangan Desember maupun jadwal bioskop Indonesia belum diumumkan. Namun, kombinasi Suzy, Lee Jin Wook, cerita patah hati yang mature, dan konsep breakup souvenir membuat film ini sudah punya enough reasons untuk masuk watchlist akhir tahun. Kalau kamu suka film romance yang lebih healing daripada cheesy, this one looks promising.

Referensi

Yonhap News Agency, “Romance film starring Bae Suzy, Lee Jin-wook to release in Dec.”, 8 September 2026.

ANTARA, “Film drama romantis yang dibintangi Bae Suzy akan dirilis Desember,” 8 September 2026.

SBS Star, “Suzy & Lee Jin-wook’s Seven O’Clock Breakfast Club for the Brokenhearted Sets December Release,” 8 September 2026.

Korea JoongAng Daily, “Bae Suzy and Lee Jin-wook romance film to open in Korea in December,” 8 September 2026.

KT Studio Genie, Seven O’Clock Breakfast Club for the Brokenhearted – Film Information, diakses September 2026.

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *